2014 – Unyil’s first word

2014 adalah tahun pertama yang dibuka dengan ulang tahun si unyil, di tahun ini saya mencoba untuk membangun tradisi keluarga “ke kebun binatang, setiap kali si unyil ulang tahun”

Tidak banyak kejadian menggemparkan di keluarga kami tahun ini, kecuali ketika adik saya wisuda di bulan Mei, dan ketika si Unyil bertemu sepupu jauhnya di awal bulan Desember. Kejadian besar sesungguhnya adalah yang terjadi pada diri si Unyil itu sendiri : 2014 adalah tahun si Unyil belajar bicara

ini adalah tahun dimana saya akhirnya mendengar sebutan “bu-bu” dari mulut kecilnya yang manyun, setelah sebelumnya dipanggil dengan sebutan nen-nen
ini adalah tahun dimana unyil mulai saya perkenalkan pada susu sapi, dan mengetahui bahwa “tu-tu bu-bu” (susu bubu) itu lebih enak daripada “tu-tu moo” (susu sapi)
ini adalah tahun dimana unyil mengenal kata “enggak”, dan bilang enggak untuk semua hal
ini adalah tahun dimana saya dibikin pusing kepala atas kelakuan dan drama-drama kecilnya,
ini adalah tahun dimana saya terkagum-kagum dengan kemampuan berkomunikasi si Unyil, dengan kosakata dan kemampuan bicara yang masih terbatas, si Unyil sudah bisa bercerita, dan bisa menceritakan kembali apa yang baru kami lakukan
dan ingatannya luar biasa!

ini adalah tahun dimana saya kembali belajar dari dari si makhluk kecil,
belajar untuk bersabar
untuk mendengarkan
untuk tidak egois
untuk tegas
untuk penuh kasih sayang

yah, 2014 adalah tahun si Unyil belajar bicara
dan saya belajar mendengar

dan mencoba mengerti

sekedar pengingat untuk diri sendiri

Bermula dari obrolan dengan teman seputar capres, palestina, lalu cerita nabi.
lalu cerita mukzizat nabi.

segera terbersit.
“enak bener ya, jadi nabi”
“mau apa-apa juga tinggal minta sama Allah”
“ya Allah, pada kehausan orang-orang” kata Nabi Musa
“ya sudah, sana ketuk batu dengan tongkat”
lalu keluar air.

sekarang mana bisa
mana bisa dapet makanan gitu aja
mana bisa ngelawan musuh ribuan
mana bisa punya rumah
mana bisa ….
errr….
er….

kenapa ga bisa ya?
kenapa ga bisa minta sama Allah?
apa karena sudah bukan jaman nabi keperkasaan Allah berkurang?
apa karena jaman serba modern kemudian Allah ga punya kuasa lagi?

bukan keperkasaan Allah yang berkurang
iman saya yang kurang
saya yang terlalu sombong, dan lupa atas kuasa Allah
lupa kalau Allah pernah bilang pada Musa
“mintalah padaKu, walaupun untuk tali sepatumu”

happiness is not for sale

ah, bahagianya bisa tergelitik untuk nulis blog lagi.
bermula dari gambar ini, dan kemudian saya getek untuk ngomentarin.
boleh ya.. ya.. ya..
0c9479e18e5dc81149ee75efd5097c5c

gambarnya aja sih, OK.
tapi tulisannya saya ga setuju..
kenapa bisa menanggap sianak kecil yang jualan hati-hati itu ga bahagia. tau darimana dia ga bahagia?
apakah yang nulis itu merasa lebih bahagia?

menurut saya, kebahagiaan itu bukan sesuatu yang diperjual belikan
kebahagiaan itu sesuatu yang diciptakan oleh kita sendiri
dari rasa syukur
semakin kita bersyukur, semakin kita bahagia

lebihnya, kebahagiaan itu bukan sesuatu yang mengenal usia, status, apalagi materi
kebahagiaan itu milik setiap orang
kebahagiaan itu ga mesti muda foya-foya, tua kaya raya, dan mati masuk surga

kebahagiaan itu, bertemu matahari dipagi hari
kebahagiaan itu, berlari-lari sambil menangkap layang-layang lepas
kebahagiaan itu, bermain genangan air selepas hujan
kebahagiaan itu, bisa ngeblog lagi setelah sekian lama
kebahagiaan itu, senyuman atas semua anugrah Tuhan

rasa baru di 2013

Kalau saya dapat merangkum 2013 dalam satu kata, kata yang akan saya pilih adalah
“COMEBACK”
hahaha.. apeu banget ga katanya?
tapi 2013 adalah tahun dimana banyak hal terjadi kembali didalam hidup saya (dengan rasa baru tentunya).

dimulai dari tangisan bayi lelaki pada hari kesepuluh
saya tahu, bahwa mulai saat itulah kehidupan saya akan berubah 180 derajat
dan semua yang kembali terjadi dalam hidup saya, sebagian besar dipengaruhi oleh si bayi lelaki

lalu comeback#1
si bayi lelaki membuat saya kembali kerumah ibu saya. tempat tinggal saya selama saya melajang.
bedanya, sekarang itu adalah rumah ibu saya, dan bukan lagi rumah saya.
2 minggu dirumah ibu saya, membuat saya menyadari bahwa keluarga saya merupakan entitas yang berbeda, walaupun merupakan bagian, dari keluarga ibu saya.

lalu comeback#2
setelah 3 bulan menunggu, bertemu, dan bersama si bayi lelaki, saatnya saya kembali beraktifitas.
kembali ke kantor saya, dan meneruskan pekerjaan saya.
bedanya (dan ini adalah perbedaan yang sangat besar) saya tidak lagi cerdas!
saya harus melamun lebih lama untuk menyelesaikan pekerjaan, yang biasanya selesai hanya dalam hitungan menit.
beberapa bagian dari otak saya hibernasi. untuk jangka waktu yang cukup panjang.

lalu comeback#3
keluarnya si bayi lelaki, aktifitas tak kunjung henti bersamanya, dan tugas mulia seorang ibu sebagai sumber makanan.
membuat timbangan saya kembali! hahahaha
bedanya? tentu saja bekas operasi, perut yang jadi ajaib, dan beberapa bagian tubuh lainnya yang tidak bisa lagi disebut “normal”

lalu comeback#4
HP lama saya diambil orang, lalu saya kembali harus beli HP baru (yaaay!)
si bayi lelaki, tentunya mempengaruhi jenis HP yang saya pilih. ya sudahlah, tak perlu kita bahas yang ini.

lalu comeback#5
pekerjaan saya membawa saya kembali ke Eropa. ga lama. cuman seminggu.
bedanya, Eropa ga lagi semenarik dan seindah dulu.
Kalau dulu malem-malem keluyuran ngeliat kota, sekarang malem-malem ngeliatin apdetan poto si bayi lelaki, sambil me-maintain supply makanan si bayi lelaki.

lalu comeback#6
penutup tahun, saya kembali ke Pantai (akhirnya! setelah mengidam cukup lama).
bedanya? sekarang si bayi lelaki ikut ke pantai. ikut mainan pasir. ikut berenang.
bedanya lagi? kalau dulu jalan-jalan yang penting seru dan murah, kalau sekarang yang penting nyaman, dengan bawaan segambreng, dan rasa capek yang ngedobel :P

2013, rasa baru!
2014, rasa apa ya?

cita-cita… punya siapa?

saya mau jadi astronot. juga pengen jadi kasir.

dua cita-cita (kalau bisa dikatakan begitu) yang tidak seiringan.
ya iyalah tidak seiringan, setidaknya sampe sekarang belum ada supermarket (atau tukang bakso) di luar angkasa yang mana saya bisa nyambi sebagai kasir.
nanti kalau minimal di International Space Station ada yang buka warung dan jualan kopi sachet instant, kaya warung kejujuran yang ada di ruangan kantor saya, baru cita-cita saya itu bisa dibilang akan ada titik temu.

terus kenapa saya pengen jadi astronot?

adalah sebuah cerita dimasa kecil *lalu flashback*. (sebuah ruangan berdinding putih, seorang anak kecil keriting item dengan muka sok tau yang culun duduk menghadap meja bertaplak putih ditemani seorang psikolog yang membawa karton berisi gambar-gambar)
saya kecil sedang mengikuti tes psikologi. pada tes kali itu, saya diperlihatkan bermacam-macam gambar mode transportasi dan disuruh menebak mana yang kecepatannya paling rendah dan mana yang paling tinggi. saya kecil yang belum mengenal roket saat itu, terbengong-bengong melihat sebuah gambar lonjong dengan cucut diujungnya. dan ketika dihadapkan dengan pertanyaan
“mana yang lebih cepat, ini (pesawat) atau ini (roket)?”
Dengan yakinnya saya menunjuk pesawat, yang dijawab dengan gelengan kepala.
Selesainya, saya langsung mengkonfirmasikan pada ayah (satu sosok yang merupakan ensiklopedia hidup buat saya). Dan dimulailah pelajaran tentang luar angkasa, bintang, planet-planet, dan manusia yang berkelana diantaranya. ASTRONOT. yak! saya mau jadi astronot!

terus kenapa kasir?

mungkin itu adalah sebuah pekerjaan yang membuat saya terpana. terpana melihat kelihaian mbak-mbak memencet-mencet keyboard, memasukan kode-kode, yang disambut dengan bunyi “pip” “pip”
“cklek klek klek klek klek klek pip klek klek klek cekcekceklek klek pip pip pip klek pip klek, semuanya tiga ribu lima ratus” “uangnya lima ribu ya, cklek klek klek klek pip jgreg *pintu uang terbuka* sep sep sep klek klek cretek *nutup pintu uang*, pripipipipipipipipit. *ngerobek kertas nota* kembaliannya seribu lima ratus. terima kasih.”
WOW BANGET!
nada-nada yang merdu buat saya saat itu. dan dimulailah permainan menjadi kasir dengan bantuan kalkulator tukang daging milik ibu saya.

lalu bagaimana arah hidup saya? apakah jalur hidup saya itu berjalan karena cita-cita saya?

selepas SMU, saya galau mau melanjutkan kemana.
matematika dan teknik mesin jadi pilihan saya. kenapa? karena saya jatuh cinta pada matematika *geek!* dan teknik mesin berkesan keren ajah buat perempuan. hahaha. dan keduanya ga ada hubungannya dengan astronot, apalagi kasir!
tapi lalu ibu saya mencoret impian saya untuk masuk matematika, karena seorang sepupu yang adalah mahasiswa matematika menggunakan penggaris untuk memotong kue brownies buatannya. hahaha…
dan meminta saya untuk memilih informatika. dan atas dasar “takut tidak mendapat restu orang tua”, saya pun memilih informatika sebagai pilihan pertama, dan kedua… tentunya tidak boleh matematika.. lalu teknik mesin? gila aja, passing grade-nya ga jauh dari informatika.
setelah membulak-balik daftar jurusan, akhirnya mata saya tertuju pada teknik penerbangan.
apapun itu, terdengar keren! dan menclok lah saya di jurusan tersebut dengan nomer urut 41.

lalu mana astronot? mana kasir nya? dan mana usaha saya menggapai keduanya?
jurusan, saya pilih karena “keren”. universitas, adalah kasih tak sampai ibu saya.
kuliah. lulus. kerja.

lalu S-2. jurusan, karena ada beasiswa dan iming-iming keluar negeri. universitas, kembali ke kampus lama.
apakah S-2 saya karena astronot? atau kasir? atau ada yang ingin anaknya S-2?
saat itu, saya punya alasan saya sendiri. yang cukup menjanjikan, keren, dan valid menurut saya.

tapi kemudian saya berfikir…
apakah saya mau S-2 karena saya mau S-2, atau saya mau S-2 karena selalu diingatkan untuk S-2?
yang pasti S-2 itu tidak ada hubungannya dengan astronot. apalagi kasir.
lalu keinginan untuk sekolah lagi itu kenapa?
karena saya mau? atau saya mau karena ada yang mau? atau saya mau karena saya selalu diingatkan untuk mau?

lalu saya disini sekarang. seperti ini.
tentu saja bukan semuanya saya.
saya.
cita-cita saya.
hidup saya.
apakah itu saya?
.
.
.
#lagi-lagi sebuah pemikiran yang didorong oleh kehadiran Unyil.
Mau dibawa kemana hidup Unyil.
Goresan apa yang akan saya gambarkan pada diri Unyil.
Cita-cita apa yang akan saya kenalkan pada Unyil.

Seperti pertanyaan seorang teman ketika Unyil baru tiba di muka bumi.
“nama anak loe siapa? cita-citanya apa?”. ya kali, cita-cita harus ditulis di akte kelahiran!

Kean102

Senyum-senyum sendiri
Ngelamun
Rasanya kaya Jatuh Cinta lagi (dan memang iyah)
pengen teriak sama dunia,
ngomongin kesemua orang,
sambil mamerin potonya

Nelepon cuman buat nanya “sudah makan apa belum?”
“lagi apa?” “seharian ngapain aja?”
Rasanya kaya punya Pacar Baru
ngegodain biar disenyumin
terus ngakak bareng

kebayang terus matanya
senyumnya
suaranya
teriaknya

ah.. Unyil
you surely colour my world

Kean 101

si Unyil sekarang umurnya sudah 9 bulan.
Sudah banyaaak sekali maunya

lucu rasanya punya anak..
seru
kagum

kalau waktu si unyil 4 bulan, konon katanya dia sedang belajar
bahwa dirinya adalah entitas yang berbeda dengan ibunya
sekarang saatnya saya yang belajar
belajar bahwa unyil adalah entitas yang berbeda dari saya

saya sedang belajar
(dan tentunya sambil mengagumi)
bahwa dirinya adalah manusia

manusia yang punya keinginan sendiri
dan penasaran sama dunia (iya kah? atau hanya bayangan saya?)
manusia yang bisa menolak kalau dia tidak mau
dan tentunya bisa marah kalau dia tidak suka

saya sedang belajar,
untuk menghargai si unyil
bahwa dia punya ingin
dia punya rasa

saya sedang belajar,
untuk tidak memaksa

hah..
Unyil baru 9 bulan..
lalu kenapa saya mellow dan berasa bahwa sebentar lagi dia akan menikah?
hahahaha

Kean dan gaya tidur semaunya